KunciASN
KUNCIASN

Soal & Pembahasan Numerik - Soal Cerita

Kumpulan soal Numerik - Soal Cerita kategori TIU CPNS 2026 lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan setiap soal. Baca dulu, lalu coba latihan interaktifnya secara gratis.

Soal 1
Sebuah tes seleksi penerimaan pegawai diikuti oleh 200 peserta. Jika 35% peserta dinyatakan lulus seleksi administrasi, berapa orang yang dinyatakan lulus?
Pembahasan

Ini adalah soal persentase dasar: cari nilai bagian. Kita tahu total dan persentasenya, tinggal kalikan keduanya.

Diketahui:

  • Total peserta = 200 orang
  • Persentase lulus = 35%

Penyelesaian:

Langkah 1: Kalikan total peserta dengan persentase lulus: \text{Lulus} = 35\% \times 200 = \frac{35}{100} \times 200 = 70 \text{ orang}

Cara Cepat: Persen × Total ÷ 100. Langsung: 35 × 200 ÷ 100 = 70.

Verifikasi: 70 ÷ 200 × 100% = 35% ✅

Jawaban: C. 70 orang

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 35 orang: langsung menggunakan nilai persentase sebagai jawaban tanpa mengalikannya dengan total peserta
  • B. 60 orang: salah membaca persentase, menggunakan 30% bukan 35%
  • D. 130 orang: menghitung jumlah yang tidak lulus (200 \times 65\%), bukan yang lulus
  • E. 165 orang: mengurangi nilai persentase dari total secara langsung (200 − 35), bukan mengalikannya
Soal 2
Sebuah mobil menempuh jarak 240 km dalam waktu 3 jam. Berapa kecepatan rata-rata mobil tersebut?
Pembahasan

Ini adalah soal kecepatan dasar: cari kecepatan. Gunakan rumus v = s ÷ t langsung ke angka yang tersedia.

Diketahui:

  • Jarak (s) = 240 km
  • Waktu (t) = 3 jam

Penyelesaian:

Langkah 1: Terapkan rumus kecepatan: v = \frac{s}{t} = \frac{240}{3} = 80 \text{ km/jam}

Cara Cepat: v = s ÷ t. Langsung: 240 ÷ 3 = 80.

Verifikasi: 80 km/jam × 3 jam = 240 km ✅

Jawaban: D. 80 km/jam

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 60 km/jam: hasil dari 240 \div 4, menggunakan waktu 4 jam bukan 3 jam
  • B. 70 km/jam: tidak ada kombinasi s dan t yang valid dari soal menghasilkan angka ini
  • C. 75 km/jam: tidak ada kombinasi s dan t yang valid dari soal menghasilkan angka ini
  • E. 90 km/jam: hasil dari 270 \div 3, menggunakan jarak 270 km bukan 240 km
Soal 3
Selisih umur kakak dan adik adalah 8 tahun. Jika umur adik sekarang 15 tahun, berapa umur kakak sekarang?
Pembahasan

Ini adalah soal umur dasar: cari umur dari selisih. Karena kakak lebih tua, umur kakak = umur adik + selisih.

Diketahui:

  • Selisih umur kakak dan adik = 8 tahun
  • Umur adik = 15 tahun

Penyelesaian:

Langkah 1: Umur kakak = umur adik + selisih: \text{Umur kakak} = 15 + 8 = 23 \text{ tahun}

Cara Cepat: Kakak lebih tua → tambah. Umur kakak = 15 + 8 = 23.

Verifikasi: 23 − 15 = 8 tahun (selisih sesuai soal) ✅

Jawaban: C. 23 tahun

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 7 tahun: mengurangi selisih dari umur adik (15 - 8 = 7), seolah kakak lebih muda dari adik
  • B. 15 tahun: menjawab umur adik yang sudah diketahui, bukan umur kakak yang ditanya
  • D. 24 tahun: salah baca selisih, menggunakan 9 tahun bukan 8 tahun (15 + 9 = 24)
  • E. 30 tahun: menggandakan umur adik (15 \times 2 = 30) alih-alih menambahkan selisih 8 tahun
Soal 4
Seorang pegawai negeri menyimpan uang pesangon sebesar Rp10.000.000 di koperasi dengan bunga majemuk 10% per tahun. Setelah 2 tahun, berapa total uang yang diterima pegawai tersebut?
Pembahasan

Diketahui:

  • Modal awal (P): Rp10.000.000
  • Bunga per tahun (r): 10% = 0,10
  • Periode (n): 2 tahun
  • Sistem: bunga majemuk (bunga berbunga)
  • Ditanya: total uang setelah 2 tahun

Perbedaan kunci: bunga sederhana selalu dihitung dari modal awal, sedangkan bunga majemuk dihitung dari saldo terkini: termasuk bunga tahun sebelumnya.

Penyelesaian:

Rumus bunga majemuk: A = P \times (1 + r)^n

A = 10.000.000 \times (1 + 0{,}10)^2 = 10.000.000 \times 1{,}21 = 12.100.000

Cara Bertahap: Lebih mudah dipahami:

  • Akhir tahun 1: 10.000.000 + 10\% \times 10.000.000 = 11.000.000
  • Akhir tahun 2: 11.000.000 + 10\% \times 11.000.000 = 12.100.000

Bunga tahun ke-2 = Rp1.100.000 (lebih besar dari tahun ke-1 = Rp1.000.000) karena dihitung dari saldo yang sudah bertumbuh.

Jawaban: C. Rp12.100.000

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. Rp11.000.000: hanya menghitung satu tahun bunga, bukan dua tahun.
  • B. Rp11.500.000: menghitung bunga sederhana dua tahun kemudian dibagi dua: 10.000.000 + 2 \times 10\% \times 10.000.000 = 12.000.000, salah jalur hitung.
  • D. Rp12.000.000: menggunakan bunga sederhana dua tahun: 10.000.000 \times (1 + 0{,}10 \times 2) = 12.000.000. Bunga tahun ke-2 tidak ikut berbunga.
  • E. Rp12.200.000: menjumlah bunga dua tahun masing-masing 10% dari 10 juta lalu menambah Rp200.000 ekstra yang tidak ada dasarnya.
Soal 5
Seorang nelayan menggunakan sampan bermesin untuk menyusuri sungai. Saat bergerak mengikuti arus menuju muara, sampan melaju 18 km/jam. Saat kembali melawan arus ke hulu, kecepatannya hanya 6 km/jam. Berapa kecepatan arus sungai tersebut?
Pembahasan

Diketahui:

  • Kecepatan hilir (searah arus): 18 km/jam
  • Kecepatan hulu (melawan arus): 6 km/jam
  • Ditanya: kecepatan arus sungai

Hubungan antara variabel:

  • v_{\text{hilir}} = v_{\text{sampan}} + v_{\text{arus}}
  • v_{\text{hulu}} = v_{\text{sampan}} - v_{\text{arus}}

Penyelesaian:

Cara Cepat: Kurangkan kedua persamaan untuk mengeliminasi v_sampan:

v_{\text{arus}} = \frac{v_{\text{hilir}} - v_{\text{hulu}}}{2} = \frac{18 - 6}{2} = \frac{12}{2} = 6 \text{ km/jam}

Bonus: Kecepatan sampan di air tenang:

v_{\text{sampan}} = \frac{v_{\text{hilir}} + v_{\text{hulu}}}{2} = \frac{18 + 6}{2} = 12 \text{ km/jam}

Verifikasi: 12 + 6 = 18 (hilir ✅), 12 - 6 = 6 (hulu ✅)

Jawaban: C. 6 km/jam

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 2 km/jam: tidak ada dasar rumus untuk hasil ini. Kemungkinan dari pembagian angka secara acak.
  • B. 4 km/jam: mungkin dari \frac{18 - 6}{3} = 4, membagi dengan 3 bukan 2. Rumus kecepatan arus selalu menggunakan pembagi 2.
  • D. 12 km/jam: ini kecepatan sampan di air tenang, bukan kecepatan arus: \frac{18+6}{2} = 12. Rumus yang dipakai benar tapi menjawab variabel yang salah.
  • E. 18 km/jam: menjawab kecepatan hilir langsung dari soal. Kecepatan hilir sudah terbantu arus, nilainya lebih besar dari kecepatan arus sendiri.
Soal 6
Sebuah laptop dijual seharga Rp8.000.000. Pembeli mendapat cashback Rp800.000, namun transaksi dikenakan PPN 11% dari harga setelah cashback. Berapa total yang harus dibayar pembeli?
Pembahasan

Diketahui:

  • Harga asal: Rp8.000.000
  • Cashback (potongan flat): Rp800.000
  • PPN: 11%: dihitung dari harga setelah cashback, bukan dari harga asal
  • Ditanya: total yang dibayar

Kunci soal ini ada di urutan operasi. Karena cashback berupa nilai flat, potongan harus diterapkan dulu baru PPN dihitung dari harga hasil potongan.

Penyelesaian:

Langkah 1: Harga setelah cashback:

8.000.000 - 800.000 = \text{Rp}7.200.000

Langkah 2: PPN 11% dihitung dari harga setelah cashback:

7.200.000 \times 11\% = \text{Rp}792.000

Langkah 3: Total yang dibayar:

7.200.000 + 792.000 = \text{Rp}7.992.000

Verifikasi: Cashback Rp800.000 membuat harga jadi Rp7.200.000, lalu PPN 11% menambah Rp792.000 → total Rp7.992.000 ✅

Jawaban: C. Rp7.992.000

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. Rp7.200.000: berhenti di Langkah 1, lupa menambahkan PPN. Harga sudah dipotong cashback tapi belum dikenai pajak.
  • B. Rp7.832.000: PPN dihitung dari cashback saja bukan dari harga setelah cashback: 8.000.000 - 800.000 - 800.000 \times 11\% = 7.200.000 - 88.000 = 7.112.000. Tidak ada dasar untuk mengenakan PPN hanya pada nilai cashback.
  • D. Rp8.000.000: menjawab harga asal tanpa mengerjakan apapun. Baik cashback maupun PPN diabaikan.
  • E. Rp8.880.000: urutan operasi terbalik: PPN dihitung dari harga asal dulu baru dikurangi cashback: 8.000.000 \times 1{,}11 - 800.000 = 8.880.000 - 800.000 = 8.080.000... atau langsung 8.000.000 \times 1{,}11 = 8.880.000 tanpa potongan sama sekali. Soal menyatakan PPN dari harga setelah cashback.
Soal 7
Sebuah toko elektronik mengadakan flash sale. Sebuah smartphone seharga Rp4.000.000 mendapat diskon pertama 15%, kemudian diskon tambahan 10% dari harga setelah diskon pertama bagi pengguna aplikasi. Berapa harga yang dibayar pengguna aplikasi tersebut?
Pembahasan

Diketahui:

  • Harga awal: Rp4.000.000
  • Diskon pertama: 15%
  • Diskon kedua: 10%: dihitung dari harga setelah diskon pertama
  • Ditanya: harga akhir setelah dua diskon

Diskon bertingkat tidak bisa dijumlah. Diskon 15% + 10% bukan diskon 25% karena dasar perhitungan diskon kedua sudah berbeda (lebih kecil).

Penyelesaian:

Cara Cepat: Kalikan langsung kedua faktor ke harga awal:

4.000.000 \times (1 - 15\%) \times (1 - 10\%) = 4.000.000 \times 0{,}85 \times 0{,}9 = 4.000.000 \times 0{,}765 = \text{Rp}3.060.000

Cara Standar: Dua langkah berurutan:

Langkah 1: Harga setelah diskon 15%:

4.000.000 \times 0{,}85 = \text{Rp}3.400.000

Langkah 2: Harga setelah diskon 10% dari Rp3.400.000:

3.400.000 \times 0{,}9 = \text{Rp}3.060.000

Verifikasi: Diskon efektif total = \frac{4.000.000 - 3.060.000}{4.000.000} \times 100\% = \frac{940.000}{4.000.000} = 23{,}5\%, bukan 25% ✅

Jawaban: D. Rp3.060.000

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. Rp2.800.000: menjumlahkan kedua diskon menjadi 25% dan mengurangi dari harga awal: 4.000.000 \times 0{,}75 = 3.000.000... tidak menghasilkan 2.800.000. Atau menghitung diskon 30%: 4.000.000 \times 0{,}7 = 2.800.000. Tidak ada dasar untuk menggunakan 30%.
  • B. Rp3.000.000: menjumlah diskon menjadi 25%: 4.000.000 \times (1 - 25\%) = 3.000.000. Diskon bertingkat tidak bisa dijumlahkan karena basis perhitungannya berbeda.
  • C. Rp3.040.000: menghitung diskon kedua dari harga asal, bukan dari harga setelah diskon pertama: 4.000.000 \times 15\% = 600.000 dan 4.000.000 \times 10\% = 400.000, total diskon 1.000.000, sisa = 3.000.000. Tidak juga menghasilkan 3.040.000: kemungkinan kesalahan hitung lain.
  • E. Rp3.400.000: hanya menerapkan diskon pertama (15%), lupa diskon kedua: 4.000.000 \times 0{,}85 = 3.400.000. Berhenti di Langkah 1.
Soal 8
Sebuah kapal feri berangkat dari Pelabuhan Merak pukul 07.00 dengan kecepatan 40 km/jam. Pukul 09.00, kapal menghadapi ombak sehingga kecepatannya turun menjadi 20 km/jam. Sebuah kapal cepat berangkat dari pelabuhan yang sama pukul 08.00 dengan kecepatan 60 km/jam mengikuti rute yang sama. Pada jarak berapa dari Pelabuhan Merak kapal cepat berhasil menyusul kapal feri?
Pembahasan

Diketahui:

  • Kapal feri: berangkat 07.00 @ 40 km/jam, melambat ke 20 km/jam mulai pukul 09.00
  • Kapal cepat: berangkat 08.00 @ 60 km/jam
  • Ditanya: posisi saat kapal cepat menyusul kapal feri

Soal ini punya dua fase karena kecepatan feri berubah di tengah perjalanan. Kuncinya: hitung posisi kedua kapal tepat saat feri melambat (09.00), lalu cari kapan kapal cepat menutup sisa jarak.

Penyelesaian:

Fase 1: Posisi masing-masing pukul 09.00:

  • Kapal feri (sudah jalan 2 jam): 40 \times 2 = 80 \text{ km dari Merak}
  • Kapal cepat (sudah jalan 1 jam sejak 08.00): 60 \times 1 = 60 \text{ km dari Merak}
  • Selisih jarak (gap): 80 - 60 = 20 \text{ km}

Fase 2: Setelah 09.00, misalkan t = jam setelah 09.00:

  • Posisi kapal feri: 80 + 20t
  • Posisi kapal cepat: 60 + 60t

Saat menyusul:

60 + 60t = 80 + 20t \Rightarrow 40t = 20 \Rightarrow t = 0{,}5 \text{ jam}

Posisi penyusulan:

60 + 60 \times 0{,}5 = 60 + 30 = \mathbf{90} \text{ km dari Merak}

Verifikasi: Posisi feri = 80 + 20 \times 0{,}5 = 90 km ✅ → kedua kapal bertemu di 90 km pada pukul 09.30.

Jawaban: C. 90 km

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 60 km: mengambil posisi kapal cepat saat feri mulai melambat (09.00) seolah itu titik penyusulan. Pada saat itu kapal cepat di 60 km, feri di 80 km: belum menyusul.
  • B. 80 km: mengambil posisi feri saat melambat (09.00) sebagai titik temu. Kapal cepat baru di 60 km pada 09.00, masih tertinggal 20 km.
  • D. 100 km: menghitung gap (20 km) dibagi kecepatan penuh kapal cepat (60 km/jam) = 1/3 jam, lalu menambahkan ke posisi kapal cepat saat 09.00: 60 + 60×(1/3) = 80 km. Lupa bahwa feri masih bergerak @ 20 km/jam, sehingga kecepatan penutupan gap sebenarnya 40 km/jam, bukan 60.
  • E. 120 km: mengira feri tidak pernah melambat dan terus @ 40 km/jam: posisi pertemuan = 80 + 40t = 60 + 60t → t = 1 jam → 60 + 60 = 120 km. Perlambatan feri mulai 09.00 diabaikan.
Soal 9
Seorang peternak ikan lele mulai memanen hasil budidayanya. Pada bulan pertama ia memanen 20 kg, dan setiap bulan berikutnya hasil panen meningkat tiga kali lipat dari bulan sebelumnya. Harga jual pada bulan pertama adalah Rp50.000 per kg, namun karena pasokan membanjir, harga turun Rp15.000 setiap bulannya. Berapa pendapatan tertinggi yang dapat dicapai dalam satu bulan?
Pembahasan

Diketahui:

  • Panen: barisan geometri, suku pertama 20 kg, rasio r = 3
  • Harga jual: barisan aritmatika, suku pertama Rp50.000/kg, beda d = −Rp15.000
  • Ditanya: pendapatan tertinggi dalam satu bulan

Pendapatan tiap bulan = hasil kali dua barisan yang berlawanan arah: panen naik (geometri), harga turun (aritmatika). Tidak ada rumus tunggal untuk menemukan maksimumnya; harus dihitung dan dibandingkan setiap bulan satu per satu.

Penyelesaian:

Langkah 1: Susun panen dan harga per bulan:

  • Panen bulan ke-n: P_n = 20 \times 3^{n-1}
  • Harga bulan ke-n: H_n = 50.000 - 15.000(n-1)

Langkah 2: Hitung pendapatan tiap bulan hingga harga masih positif:

BulanPanen (kg)Harga/kgPendapatan
120Rp50.000Rp1.000.000
260Rp35.000Rp2.100.000
3180Rp20.000Rp3.600.000
4540Rp5.000Rp2.700.000
51.620−Rp10.000(tidak valid)

Langkah 3: Identifikasi puncak pendapatan:

Pendapatan naik dari bulan 1 ke 3, lalu turun tajam di bulan 4. Pendapatan tertinggi ada di bulan ke-3: 180 \times 20.000 = \text{Rp}3.600.000

Verifikasi: Bulan 3 > Bulan 2 (3.600.000 > 2.100.000) ✅ dan Bulan 3 > Bulan 4 (3.600.000 > 2.700.000) ✅ → bulan ke-3 adalah puncak.

Jawaban: C. Rp3.600.000

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. Rp1.000.000: hanya menghitung bulan pertama dan langsung berhenti: 20 \times 50.000 = 1.000.000. Pendapatan terus naik hingga bulan ke-3; perlu memeriksa seluruh periode valid.
  • B. Rp2.100.000: berhenti di bulan ke-2 tanpa memeriksa bulan ke-3: 60 \times 35.000 = 2.100.000. Meski harga sudah turun, lonjakan panen di bulan ke-3 masih cukup besar untuk melampaui bulan ke-2.
  • D. Rp2.700.000: mengambil pendapatan bulan ke-4 sebagai maksimum karena volumenya paling besar. Namun harga sudah sangat rendah (Rp5.000/kg) sehingga pendapatannya justru lebih kecil dari bulan ke-3.
  • E. Rp5.400.000: menggunakan panen bulan ke-4 (540 kg) dengan harga bulan ke-3 (Rp20.000/kg): 540 \times 20.000 = 10.800.000... atau mengira harga bulan ke-3 adalah Rp30.000: 180 \times 30.000 = 5.400.000. Harga bulan ke-3 adalah Rp20.000, bukan Rp30.000.
Soal 10
Sebuah drone pengiriman paket berangkat dari gudang logistik pukul 08.00 dengan kecepatan 50 km/jam. Pukul 10.00, sensor baterai memicu mode hemat daya sehingga drone melambat menjadi 20 km/jam. Drone kedua yang lebih canggih berangkat dari gudang yang sama pukul 09.00 dengan kecepatan 60 km/jam mengikuti jalur yang sama. Pada jarak berapa dari gudang drone kedua berhasil menyusul drone pertama?
Pembahasan

Diketahui:

  • Drone 1: berangkat 08.00 @ 50 km/jam, melambat ke 20 km/jam mulai pukul 10.00
  • Drone 2: berangkat 09.00 @ 60 km/jam
  • Ditanya: posisi saat drone 2 menyusul drone 1

Soal ini punya dua fase karena kecepatan drone 1 berubah. Kuncinya: hitung posisi kedua drone tepat saat mode hemat daya aktif (10.00), lalu cari kapan drone 2 menutup sisa jarak.

Penyelesaian:

Fase 1: Posisi masing-masing pukul 10.00:

  • Drone 1 (jalan 2 jam @ 50): 50 \times 2 = 100 \text{ km}
  • Drone 2 (jalan 1 jam @ 60): 60 \times 1 = 60 \text{ km}
  • Gap: 100 - 60 = 40 \text{ km}

Fase 2: Setelah 10.00, t = jam setelah 10.00:

60 + 60t = 100 + 20t \Rightarrow 40t = 40 \Rightarrow t = 1 \text{ jam}

Posisi penyusulan:

60 + 60 \times 1 = \mathbf{120} \text{ km dari gudang}

Verifikasi: Drone 1: 100 + 20 \times 1 = 120 km ✅ → kedua drone bertemu di 120 km pukul 11.00.

Jawaban: C. 120 km

Mengapa pilihan lain salah:

  • A. 60 km: posisi drone 2 saat mode hemat aktif (10.00). Saat itu drone 1 masih di 100 km; belum ada penyusulan.
  • B. 100 km: posisi drone 1 saat melambat (10.00). Drone 2 baru di 60 km, masih tertinggal 40 km.
  • D. 140 km: menghitung gap (40 km) dibagi kecepatan drone 2 saja (60) = 2/3 jam, lalu ditambahkan ke posisi drone 2: 60 + 60×(2/3) = 100 km. Tidak menggunakan kecepatan relatif; drone 1 masih bergerak @ 20 km/jam setelah 10.00.
  • E. 160 km: mengira drone 1 tidak pernah melambat dan terus @ 50 km/jam: 60 + 60t = 100 + 50t \Rightarrow t = 4 \Rightarrow 60 + 240 = 300 km. Atau mengira gap awal dihitung saat drone 2 berangkat (09.00) dengan drone 1 sudah @ 20: 50 km gap, kecepatan relatif 40, t=1,25 → 60×1,25+60=135... berbagai jalur yang salah.