Soal & Pembahasan Pemanfaatan TIK untuk Kinerja
Kumpulan soal Pemanfaatan TIK untuk Kinerja kategori TKP CPNS 2026 lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan setiap soal. Baca dulu, lalu coba latihan interaktifnya secara gratis.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: apakah kamu benar-benar mengadopsi sistem informasi terpadu untuk seluruh pekerjaan yang relevan, atau cuma sebagian sambil tetap mengandalkan cara lama di baliknya.
Skor 5 (C. Pindahkan seluruh pencatatan, termasuk berkas lama, ke sistem baru): Ini paling ideal karena adopsinya menyeluruh, tidak menyisakan sebagian pekerjaan tetap berjalan lewat cara manual, sehingga semua data izin usaha akhirnya tercatat konsisten di satu sistem.
Skor 4 (B. Pakai sistem untuk berkas baru, tuntaskan berkas lama secara manual): Sudah menjalankan ketentuan baru secara nyata, tapi cakupannya belum penuh karena berkas yang sedang berjalan tetap diselesaikan lewat cara lama, sehingga untuk sementara ada dua sistem pencatatan berjalan berdampingan.
Skor 3 (A. Ikuti instruksi dasar tanpa eksplorasi fitur): Cukup memenuhi kewajiban memakai sistem baru, tapi pasif karena tidak mencari tahu fitur yang sebenarnya bisa membuat proses pencatatan jadi lebih rapi dan cepat.
Skor 2 (D. Serahkan input data ke rekan atas namanya sendiri): Niatnya baik supaya pencatatan tetap sesuai ketentuan baru, tapi caranya berisiko karena dirinya sendiri jadi tidak paham sistem, sehingga pekerjaan jadi bergantung penuh pada rekan tersebut.
Skor 1 (E. Tetap pakai buku catatan manual sambil menunggu pelatihan): Ini paling jauh dari esensi kebijakan baru karena tetap mengandalkan cara manual, padahal sistem sudah resmi ditetapkan dan seharusnya mulai dipelajari sambil berjalan, bukan ditunda sampai ada pelatihan.
Pola pikir: Mengadopsi sistem digital yang resmi ditetapkan instansi berarti menjalankannya secara substantif untuk seluruh pekerjaan yang relevan, bukan cuma sebagian, dan tetap dilanjutkan meski prosesnya belum sepenuhnya lancar di awal, bukan kembali ke cara lama karena dianggap lebih pasti hasilnya.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: apakah kamu benar-benar mengupayakan seluruh laporan masuk lewat jalur digital yang resmi ditetapkan, atau cuma sebagian sambil tetap membiarkan sumber lain memakai cara lama.
Skor 5 (B. Terima lewat aplikasi, dampingi penyuluh yang masih kesulitan): Ini paling ideal karena tidak berhenti di penerimaan laporan sendiri, tapi aktif membantu penyuluh lain ikut beralih, sehingga cakupan adopsi sistem baru benar-benar menyeluruh.
Skor 4 (C. Terima lewat aplikasi untuk sebagian, tetap terima pos untuk sisanya): Sudah menjalankan ketentuan baru untuk penyuluh yang siap, tapi cakupannya belum penuh karena penyuluh yang belum bisa memakai aplikasi dibiarkan tetap mengirim lewat pos tanpa diupayakan beralih.
Skor 3 (A. Terima lewat aplikasi, proses laporan pos apa adanya tanpa dorongan beralih): Cukup memenuhi kewajiban dasar menerima lewat aplikasi, tapi pasif karena tidak mengupayakan penyuluh yang masih memakai cara lama untuk ikut beralih.
Skor 2 (E. Minta staf lain input ulang laporan tertulis ke aplikasi): Niatnya baik supaya laporan tetap tercatat di sistem baru, tapi caranya kurang tepat karena penyuluh yang bersangkutan tidak ikut belajar mengirim laporannya sendiri lewat aplikasi.
Skor 1 (D. Tetap terima laporan tertulis, rencana input sendiri belakangan): Ini paling jauh dari esensi kebijakan baru karena tetap mengandalkan cara manual, padahal aplikasi pelaporan sudah resmi diwajibkan dan seharusnya dipakai sejak laporan pertama masuk.
Pola pikir: Mengadopsi sistem digital yang resmi ditetapkan instansi berarti mengupayakan seluruh pekerjaan yang relevan ikut beralih, termasuk membantu pihak lain yang masih kesulitan, bukan membiarkan sebagian tetap berjalan lewat cara lama atau kembali sepenuhnya ke cara manual.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: apakah kamu benar-benar mengadopsi sistem informasi administrasi kependudukan untuk seluruh pekerjaan yang relevan, atau cuma sebagian sambil tetap mengandalkan cara lama di baliknya.
Skor 5 (C. Pindahkan seluruh pencatatan, termasuk akta lama, ke sistem baru): Ini paling ideal karena adopsinya menyeluruh, tidak menyisakan sebagian pekerjaan tetap berjalan lewat cara manual, sehingga semua akta kelahiran akhirnya tercatat konsisten di satu sistem.
Skor 4 (B. Pakai sistem untuk akta baru, tuntaskan akta lama secara manual): Sudah menjalankan ketentuan baru secara nyata, tapi cakupannya belum penuh karena akta yang sedang berjalan tetap diselesaikan lewat cara lama, sehingga untuk sementara ada dua sistem pencatatan berjalan berdampingan.
Skor 3 (A. Ikuti instruksi dasar tanpa eksplorasi fitur): Cukup memenuhi kewajiban memakai sistem baru, tapi pasif karena tidak mencari tahu fitur yang sebenarnya bisa membuat proses pencatatan jadi lebih rapi dan cepat.
Skor 2 (D. Serahkan input data ke rekan atas namanya sendiri): Niatnya baik supaya pencatatan tetap sesuai ketentuan baru, tapi caranya berisiko karena dirinya sendiri jadi tidak paham sistem, sehingga pekerjaan jadi bergantung penuh pada rekan tersebut.
Skor 1 (E. Tetap pakai buku register manual sambil menunggu pelatihan): Ini paling jauh dari esensi kebijakan baru karena tetap mengandalkan cara manual, padahal sistem sudah resmi ditetapkan dan seharusnya mulai dipelajari sambil berjalan, bukan ditunda sampai ada pelatihan.
Pola pikir: Mengadopsi sistem digital yang resmi ditetapkan instansi berarti menjalankannya secara substantif untuk seluruh pekerjaan yang relevan, bukan cuma sebagian, dan tetap dilanjutkan meski prosesnya belum sepenuhnya lancar di awal, bukan kembali ke cara lama karena dianggap lebih pasti hasilnya.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: kelima opsi kecuali A sama-sama berujung data omzet masuk ke aplikasi, tapi yang membedakan adalah sejauh mana aplikasi itu benar-benar dimanfaatkan sebagai alat kerja harian, bukan cuma dipenuhi di ujung untuk formalitas laporan.
Skor 5 (D. Catat manual di lapangan, input ke aplikasi hari yang sama, sambil edukasi): Ini paling substantif karena data selalu masuk ke sistem hampir real-time, dan sekaligus membangun kemandirian UKM binaan untuk mengisi sendiri ke depannya, bukan sekadar memenuhi kewajiban pelaporan.
Skor 4 (B. Catat manual, input ke aplikasi sekaligus menjelang tenggat): Datanya tetap sampai ke aplikasi sesuai kewajiban, tapi aplikasi cuma dipakai sebagai formalitas akhir bulan, bukan alat kerja harian, sehingga informasi omzet jadi telat tersedia buat siapa pun yang butuh memantaunya secara berkala.
Skor 3 (C. Input sebagian UKM, sisanya tetap manual tanpa rencana lanjut): Sudah mulai memakai aplikasi, tapi cakupannya setengah jalan dan tidak ada rencana jelas menuntaskan sisa UKM yang belum terinput ke sistem.
Skor 2 (E. Delegasikan input data ke pelaku usaha lain di kelompok): Niatnya baik ingin data tetap masuk ke aplikasi, tapi caranya kurang tepat karena melibatkan pihak yang bukan petugas resmi untuk menangani data UKM lain, berisiko akurasi datanya tidak terjamin.
Skor 1 (A. Serahkan catatan manual sebagai laporan, anggap sama saja): Ini paling jauh dari esensi kebijakan karena sama sekali tidak memakai aplikasi, padahal kebijakan digital sudah resmi mewajibkan pencatatan lewat sistem, bukan cuma menyerahkan salinan manual.
Pola pikir: Menjalankan sistem baru secara substantif berarti benar-benar memanfaatkannya sebagai alat kerja sehari-hari, bukan menjalankannya di permukaan sambil tetap mengandalkan cara lama di belakang layar atau sekadar memenuhinya di ujung sebagai formalitas.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: skor 4 dan 5 sama-sama akhirnya menginput seluruh laporan ke aplikasi, tapi bedanya ada di seberapa cepat data itu benar-benar termutakhir di sistem real-time, bukan sekadar terpenuhi kewajibannya.
Skor 5 (E. Terima lewat radio saat darurat, input begitu memungkinkan): Ini paling substantif karena data kejadian tetap masuk ke aplikasi secepat kondisi memungkinkan, sehingga tim yang memantau benar-benar mendapat informasi real-time sesuai tujuan kebijakan, bukan cuma laporan akhir hari.
Skor 4 (A. Catat manual, input ke aplikasi di akhir shift): Datanya tetap sampai ke aplikasi sesuai kewajiban, tapi aplikasi cuma dipakai sebagai formalitas akhir shift, sehingga informasi kejadian bencana jadi telat tersedia buat tim yang seharusnya bisa merespons lebih cepat.
Skor 3 (C. Input sebagian kejadian, sisanya manual tanpa rencana lanjut): Sudah mulai memakai aplikasi untuk sebagian laporan, tapi cakupannya setengah jalan dan tidak ada rencana jelas menuntaskan laporan radio yang belum terinput ke sistem.
Skor 2 (D. Delegasikan input data ke operator radio lain): Niatnya baik ingin data tetap masuk ke aplikasi, tapi caranya kurang tepat karena menyerahkan input data kejadian penting ke pihak lain atas nama petugas lapangan, berisiko akurasi datanya tidak terjamin.
Skor 1 (B. Serahkan rekap manual sebagai laporan, anggap sama saja): Ini paling jauh dari esensi kebijakan karena sama sekali tidak memakai aplikasi, padahal kebijakan real-time sudah resmi mewajibkan pelaporan lewat sistem, bukan cuma menyerahkan rekap manual.
Pola pikir: Menjalankan sistem baru secara substantif berarti benar-benar memanfaatkannya sebagai alat kerja yang termutakhir, bukan menjalankannya di permukaan sambil tetap mengandalkan cara lama di belakang layar atau sekadar memenuhinya di ujung sebagai formalitas.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: skor 4 dan 5 sama-sama akhirnya menginput seluruh data ke aplikasi, tapi bedanya ada di seberapa cepat data itu benar-benar termutakhir di sistem, bukan sekadar terpenuhi kewajibannya di penghujung hari.
Skor 5 (A. Catat langsung lewat aplikasi, input hari yang sama kalau sinyal lemah): Ini paling substantif karena data hasil tangkap selalu masuk ke aplikasi sesegera mungkin, sehingga tujuan pendataan perikanan yang termutakhir benar-benar tercapai, bukan cuma laporan akhir hari.
Skor 4 (B. Catat manual, input ke aplikasi di penghujung hari): Datanya tetap sampai ke aplikasi sesuai kewajiban, tapi aplikasi cuma dipakai sebagai formalitas akhir hari, sehingga data hasil tangkap jadi telat tersedia buat siapa pun yang butuh memantaunya secara berkala.
Skor 3 (D. Input sebagian transaksi, sisanya manual tanpa rencana lanjut): Sudah mulai memakai aplikasi untuk sebagian transaksi, tapi cakupannya setengah jalan dan tidak ada rencana jelas menuntaskan transaksi lain yang belum terinput ke sistem.
Skor 2 (E. Delegasikan input data ke petugas lain): Niatnya baik ingin data tetap masuk ke aplikasi, tapi caranya kurang tepat karena menyerahkan input data hasil tangkap ke pihak lain atas namanya, berisiko akurasi datanya tidak terjamin.
Skor 1 (C. Serahkan rekap manual sebagai laporan, anggap sama saja): Ini paling jauh dari esensi kebijakan karena sama sekali tidak memakai aplikasi, padahal kebijakan sudah resmi mewajibkan pencatatan lewat sistem, bukan cuma menyerahkan rekap manual.
Pola pikir: Menjalankan sistem baru secara substantif berarti benar-benar memanfaatkannya sebagai alat kerja yang termutakhir, bukan menjalankannya di permukaan sambil tetap mengandalkan cara lama di belakang layar atau sekadar memenuhinya di ujung sebagai formalitas.
Yang diuji di soal ini adalah SPBE yang substantif: skor 4 dan 5 sama-sama akhirnya menginput seluruh data ke aplikasi, tapi bedanya ada di seberapa cepat data itu benar-benar termutakhir di sistem, bukan sekadar terpenuhi kewajibannya sebulan sekali.
Skor 5 (B. Input langsung saat berkas diserahkan, map cuma sementara): Ini paling substantif karena data prestasi masuk ke aplikasi sesegera mungkin, sehingga tujuan pendataan yang termutakhir benar-benar tercapai, bukan cuma laporan bulanan.
Skor 4 (A. Catat di map dulu, pindah ke aplikasi sebulan sekali): Datanya tetap sampai ke aplikasi sesuai kewajiban, tapi aplikasi cuma dipakai sebagai formalitas menjelang laporan, sehingga data prestasi jadi telat tersedia buat keperluan pembinaan yang mendesak.
Skor 3 (C. Input sebagian berkas, sisanya di map tanpa kepastian): Sudah mulai memakai aplikasi untuk sebagian berkas, tapi cakupannya setengah jalan dan tidak ada kepastian kapan berkas lain akan dipindahkan ke sistem.
Skor 2 (E. Delegasikan pencatatan ke pelatih daerah): Niatnya baik ingin data tetap masuk ke aplikasi, tapi caranya kurang tepat karena menyerahkan input data prestasi ke pihak lain, berisiko akurasi datanya tidak terjamin.
Skor 1 (D. Tetap pakai map arsip, anggap sama saja): Ini paling jauh dari esensi kebijakan karena sama sekali tidak memakai aplikasi, padahal kebijakan sudah resmi mewajibkan pencatatan lewat sistem, bukan cuma menyerahkan rekap map arsip.
Pola pikir: Menjalankan sistem baru secara substantif berarti benar-benar memanfaatkannya sebagai alat kerja yang termutakhir, bukan menjalankannya di permukaan sambil tetap mengandalkan cara lama di belakang layar atau sekadar memenuhinya di ujung sebagai formalitas.
Yang diuji di soal ini adalah dilema antara mendorong inovasi digital yang lebih maju dan mempertimbangkan kesiapan nyata tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu. Skor 5 di sini bukan yang paling berani mendorong teknologi tercanggih, dan juga bukan yang paling aman menghindari teknologi baru sama sekali, tapi yang menempuh jalur bertahap supaya akses sekarang dan peluang kemajuan sama-sama terakomodasi.
Skor 5 (C. Basis video untuk semua, migrasi AI bertahap bagi yang siap): Ini paling ideal karena seluruh sekolah punya basis yang pasti bisa dijalankan sekarang, sementara sekolah yang infrastrukturnya sudah siap tetap punya jalur nyata menuju platform yang lebih canggih tanpa dipaksakan sekaligus.
Skor 4 (A. Terapkan AI penuh untuk semua sekolah sekaligus): Sudah berani mendorong teknologi yang lebih maju disertai pelatihan, tapi kurang mempertimbangkan risiko nyata bahwa guru sepuh di kecamatan terpencil belum tentu bisa mengejar dalam waktu setahun, sehingga sebagian sekolah berisiko tertinggal alih-alih terbantu.
Skor 3 (D. Video sederhana seragam untuk semua sekolah): Cukup aman dari sisi kesiapan, tapi pasif karena keseragaman itu tidak mempertimbangkan sekolah yang sebenarnya sudah siap memakai platform lebih canggih, sehingga potensi kemajuan pembelajaran di sekolah itu ikut tertahan.
Skor 2 (B. Split AI untuk sekolah siap, video untuk terpencil, anggap sudah final): Niatnya baik menyesuaikan platform dengan kesiapan tiap sekolah, tapi caranya kurang tepat karena menganggap pembagian itu solusi permanen tanpa jalur upgrade, sehingga kesenjangan antar sekolah berisiko melebar permanen alih-alih mengecil seiring waktu.
Skor 1 (E. Paksakan AI untuk semua, asumsi guru akan terbiasa sendiri): Ini paling berisiko karena mengabaikan sepenuhnya kesenjangan kesiapan guru sepuh di kecamatan terpencil, dengan asumsi optimis yang tidak berdasar bahwa mereka akan otomatis terbiasa lewat pelatihan singkat sekali di awal.
Pola pikir: Mendorong transformasi digital yang lebih maju perlu tetap mempertimbangkan kesiapan kapasitas tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu, dicapai lewat pentahapan yang realistis, bukan memaksakan seluruhnya sekaligus atau sebaliknya menghindari kemajuan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan pihak yang sudah siap.
Yang diuji di soal ini adalah dilema antara mendorong inovasi digital yang lebih maju dan mempertimbangkan kesiapan nyata tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu. Skor 5 di sini bukan yang paling berani mendorong teknologi tercanggih, dan juga bukan yang paling aman menghindari teknologi baru sama sekali, tapi yang menempuh jalur bertahap supaya akses sekarang dan peluang kemajuan sama-sama terakomodasi.
Skor 5 (D. Basis barcode untuk semua, migrasi RFID bertahap bagi yang siap): Ini paling ideal karena seluruh cabang punya basis yang pasti bisa dijalankan sekarang, sementara cabang yang infrastrukturnya sudah siap tetap punya jalur nyata menuju sistem yang lebih canggih tanpa dipaksakan sekaligus.
Skor 4 (B. Terapkan RFID penuh untuk semua cabang sekaligus): Sudah berani mendorong teknologi yang lebih maju disertai pelatihan, tapi kurang mempertimbangkan risiko nyata bahwa pustakawan senior di cabang terpencil belum tentu bisa mengejar dalam waktu singkat, sehingga sebagian cabang berisiko tertinggal alih-alih terbantu.
Skor 3 (C. Barcode sederhana seragam untuk semua cabang): Cukup aman dari sisi kesiapan, tapi pasif karena keseragaman itu tidak mempertimbangkan cabang yang sebenarnya sudah siap memakai sistem lebih canggih, sehingga potensi kemajuan layanan di cabang itu ikut tertahan.
Skor 2 (E. Split RFID untuk cabang siap, barcode untuk terpencil, anggap sudah final): Niatnya baik menyesuaikan sistem dengan kesiapan tiap cabang, tapi caranya kurang tepat karena menganggap pembagian itu solusi permanen tanpa jalur upgrade, sehingga kesenjangan antar cabang berisiko melebar permanen alih-alih mengecil seiring waktu.
Skor 1 (A. Paksakan RFID untuk semua, asumsi pustakawan akan terbiasa sendiri): Ini paling berisiko karena mengabaikan sepenuhnya kesenjangan kesiapan pustakawan senior di cabang terpencil, dengan asumsi optimis yang tidak berdasar bahwa mereka akan otomatis terbiasa lewat pelatihan singkat sekali di awal.
Pola pikir: Mendorong inovasi digital yang lebih maju perlu tetap mempertimbangkan kesiapan kapasitas tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu, dicapai lewat pentahapan yang realistis, bukan memaksakan seluruhnya sekaligus atau sebaliknya menghindari kemajuan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan pihak yang sudah siap.
Yang diuji di soal ini adalah dilema antara mendorong inovasi digital yang lebih maju dan mempertimbangkan kesiapan nyata tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu. Skor 5 di sini bukan yang paling berani mendorong teknologi tercanggih, dan juga bukan yang paling aman menghindari teknologi baru sama sekali, tapi yang menempuh jalur bertahap supaya akses sekarang dan peluang kemajuan sama-sama terakomodasi.
Skor 5 (E. Basis SMS/USSD untuk semua, uji coba drone bertahap bagi yang siap): Ini paling ideal karena seluruh kecamatan punya basis pelaporan yang pasti bisa dijalankan sekarang, sementara kecamatan yang sudah punya operator terlatih tetap punya jalur nyata menuju teknologi yang lebih canggih tanpa dipaksakan sekaligus.
Skor 4 (A. Terapkan drone penuh untuk semua kecamatan sekaligus): Sudah berani mendorong teknologi yang lebih maju disertai pelatihan, tapi kurang mempertimbangkan risiko nyata bahwa penyuluh senior di pelosok belum tentu bisa mengejar dalam waktu singkat, sehingga sebagian kecamatan berisiko tertinggal alih-alih terbantu.
Skor 3 (C. SMS/USSD seragam untuk semua kecamatan): Cukup aman dari sisi kesiapan, tapi pasif karena keseragaman itu tidak mempertimbangkan kecamatan yang sebenarnya sudah siap memakai teknologi lebih canggih, sehingga potensi akurasi data di kecamatan itu ikut tertahan.
Skor 2 (D. Split drone untuk penyuluh muda, SMS untuk senior, anggap sudah final): Niatnya baik menyesuaikan teknologi dengan kesiapan tiap penyuluh, tapi caranya kurang tepat karena menganggap pembagian berdasarkan usia itu solusi permanen, sehingga kesenjangan kemampuan antar penyuluh berisiko melebar permanen alih-alih mengecil seiring waktu.
Skor 1 (B. Paksakan drone untuk semua, asumsi penyuluh akan terbiasa sendiri): Ini paling berisiko karena mengabaikan sepenuhnya kesenjangan kesiapan penyuluh senior di pelosok, dengan asumsi optimis yang tidak berdasar bahwa mereka akan otomatis terbiasa lewat pelatihan singkat sekali di awal.
Pola pikir: Mendorong inovasi digital yang lebih maju perlu tetap mempertimbangkan kesiapan kapasitas tim atau pengguna yang belum tentu bisa mengikuti secepat itu, dicapai lewat pentahapan yang realistis, bukan memaksakan seluruhnya sekaligus atau sebaliknya menghindari kemajuan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan pihak yang sudah siap.
