KunciASN
KUNCIASN

Soal & Pembahasan Pengambilan Keputusan

Kumpulan soal Pengambilan Keputusan kategori TKP CPNS 2026 lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan setiap soal. Baca dulu, lalu coba latihan interaktifnya secara gratis.

Soal 1
Kamu adalah staf pelayanan perizinan di kantor kecamatan. Ada pengajuan izin usaha mikro yang datanya sudah lengkap dan sesuai seluruh persyaratan standar tanpa ada satu pun yang menyimpang dari ketentuan, dan aturan yang berlaku sudah mendelegasikan kewenangan menandatangani izin semacam ini ke posisimu. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah kesadaran wewenang: apakah kamu bisa langsung bertindak begitu situasinya memang sudah jelas jadi tanggung jawabmu untuk diputuskan, tanpa menambah langkah persetujuan yang sebetulnya tidak diperlukan lagi.

Skor 5 (A. Proses dan tandatangani sendiri, serahkan hari itu juga) — Ini paling ideal karena langsung menjalankan kewenangan yang memang sudah didelegasikan tanpa penundaan, sekaligus menyelesaikan kebutuhan pemohon secara tuntas hari itu juga.

Skor 4 (C. Proses dan tandatangani sendiri, tapi minta ambil besok) — Keputusan menandatangani sendiri sudah tepat dan sesuai wewenang, cuma penyerahan salinannya ditunda ke esok hari padahal berkasnya sudah selesai diproses hari itu juga.

Skor 3 (D. Teruskan ke atasan dulu sebagai kebiasaan) — Cara ini tetap aman dan tidak melanggar apa pun, tapi menunjukkan kurangnya inisiatif karena melimpahkan keputusan yang sebenarnya sudah jelas jadi wewenangnya sendiri.

Skor 2 (B. Tunda untuk kerjakan tugas lain dulu) — Menunda berkas yang sudah lengkap dan tidak bermasalah untuk mendahulukan tugas lain berisiko membuat pemohon menunggu tanpa alasan yang sepadan dengan kondisi berkasnya.

Skor 1 (E. Teruskan ke pejabat lebih tinggi untuk lapisan ekstra) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena menambah jenjang persetujuan yang tidak perlu untuk hal yang wewenangnya sudah jelas ada di posisi sendiri, sehingga malah menciptakan hambatan baru bagi pemohon.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya, dan melibatkan pihak lain hanya untuk hal yang berada di luar wewenang itu, bukan menambah lapisan persetujuan yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Soal 2
Kamu adalah staf gudang farmasi di sebuah puskesmas. Poli umum mengajukan permintaan pengeluaran obat generik rutin sesuai kebutuhan bulanan yang sudah tercantum dalam rencana kebutuhan obat, jumlahnya sesuai kuota dan sudah sepenuhnya sesuai SOP pengeluaran barang yang berlaku, dan kewenangan menyetujui pengeluaran rutin semacam ini memang sudah ada di posisimu. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah kesadaran wewenang: apakah kamu bisa langsung menjalankan keputusan yang memang sudah jelas jadi tanggung jawabmu, tanpa menambah lapisan persetujuan yang sebetulnya tidak diperlukan lagi.

Skor 5 (B. Setujui dan keluarkan sendiri, catat stok hari itu juga) — Ini paling ideal karena langsung menjalankan kewenangan yang sudah didelegasikan begitu semua syarat terpenuhi, sekaligus menyelesaikan pencatatannya secara tuntas tanpa menunda apa pun.

Skor 4 (C. Setujui dan keluarkan, tapi tunda pencatatan stok) — Keputusan menyetujui pengeluarannya sudah tepat dan sesuai wewenang, cuma pencatatan stoknya ditunda ke akhir pekan padahal bisa langsung diselesaikan hari itu juga.

Skor 3 (A. Teruskan ke kepala puskesmas dulu sebagai kebiasaan) — Cara ini tetap aman dan tidak melanggar apa pun, tapi menunjukkan kurangnya inisiatif karena melimpahkan keputusan yang sebenarnya sudah jelas jadi wewenangnya sendiri.

Skor 2 (E. Tunda untuk kerjakan tugas lain dulu) — Menunda permintaan yang sudah sesuai kuota dan SOP untuk mendahulukan tugas lain berisiko membuat poli umum menunggu tanpa alasan yang sepadan dengan kondisi permintaannya.

Skor 1 (D. Teruskan ke dinkes kabupaten untuk pengesahan berlapis) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena menambah jenjang persetujuan yang tidak perlu untuk hal yang wewenangnya sudah jelas ada di posisi sendiri, sehingga menciptakan hambatan baru bagi pelayanan poli.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya, dan melibatkan pihak lain hanya untuk hal yang berada di luar wewenang itu, bukan menambah lapisan persetujuan yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Soal 3
Kamu adalah staf layanan sirkulasi di perpustakaan daerah. Seorang pengunjung mengajukan peminjaman tiga buku referensi umum dengan kartu anggota yang masih berlaku dan tanpa tunggakan denda, sesuai kuota peminjaman standar yang berlaku, dan kewenangan memproses peminjaman semacam ini memang sudah ada di posisimu. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah kesadaran wewenang: apakah kamu bisa langsung menjalankan keputusan yang memang sudah jelas jadi tanggung jawabmu, tanpa menambah lapisan persetujuan yang sebetulnya tidak diperlukan lagi.

Skor 5 (C. Proses sesuai wewenang, catat di sistem hari itu juga) — Ini paling ideal karena langsung menjalankan kewenangan yang sudah didelegasikan begitu semua syarat terpenuhi, sekaligus menyelesaikan pencatatannya secara tuntas tanpa menunda apa pun.

Skor 4 (D. Proses sesuai wewenang, tapi tunda pencatatan sampai akhir shift) — Keputusan memproses peminjamannya sudah tepat dan sesuai wewenang, cuma pencatatannya di sistem ditunda ke akhir shift padahal bisa langsung diselesaikan saat itu juga.

Skor 3 (B. Teruskan ke kepala perpustakaan dulu sebagai kebiasaan) — Cara ini tetap aman dan tidak melanggar apa pun, tapi menunjukkan kurangnya inisiatif karena melimpahkan keputusan yang sebenarnya sudah jelas jadi wewenangnya sendiri.

Skor 2 (E. Tunda untuk kerjakan tugas lain dulu) — Menunda permintaan yang sudah sesuai syarat dan kuota untuk mendahulukan tugas lain berisiko membuat pengunjung menunggu tanpa alasan yang sepadan dengan kondisi permintaannya.

Skor 1 (A. Teruskan ke dinas perpustakaan daerah untuk pengesahan berlapis) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena menambah jenjang persetujuan yang tidak perlu untuk hal yang wewenangnya sudah jelas ada di posisi sendiri, sehingga menciptakan hambatan baru bagi pengunjung.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya, dan melibatkan pihak lain hanya untuk hal yang berada di luar wewenang itu, bukan menambah lapisan persetujuan yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Soal 4
Kamu adalah staf logistik di sebuah rumah sakit daerah. Stok oksigen di ruang IGD tersisa untuk kebutuhan sekitar dua jam ke depan, dan ada stok cadangan di gudang pusat yang bisa diambil. Sebagai staf logistik, kamu sebenarnya sudah punya wewenang darurat untuk mengambil stok cadangan dalam situasi kekurangan mendesak seperti ini, meski kamu belum pernah menggunakan wewenang itu sebelumnya. Kepala instalasi farmasi yang biasanya menyetujui pengambilan stok sedang dinas luar dan sulit dihubungi karena sinyal buruk di lokasinya. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah jebakan "aman tapi lambat": situasinya sudah jelas berada dalam wewenang darurat sendiri dan sangat mendesak, tapi belum pernah menggunakan wewenang itu bisa membuat seseorang lebih memilih menunggu persetujuan yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.

Skor 5 (D. Ambil stok sesuai wewenang + coba hubungi + catat begitu selesai) — Ini paling tepat karena langsung menjalankan wewenang darurat yang memang sudah dimiliki tanpa menunggu izin yang tidak lagi diperlukan, sekaligus tetap menjaga jejak pertanggungjawaban dengan berusaha menghubungi dan mencatatnya segera.

Skor 4 (C. Ambil stok sesuai wewenang, catat nanti begitu berhasil dihubungi) — Mengambil stok sesuai wewenang darurat sudah keputusan yang benar dan tepat waktu, cuma menunda pencatatannya sampai kepala instalasi berhasil dihubungi membuat jejak pertanggungjawabannya kurang segera dibanding yang seharusnya bisa langsung dicatat.

Skor 3 (A. Tunggu izin, tunda pengambilan meski oksigen hampir habis) — Berusaha menghubungi kepala instalasi terlihat hati-hati, tapi menunda pengambilan stok yang sudah jelas jadi wewenang sendiri sampai izin didapat justru mengabaikan urgensi situasi dan tujuan wewenang darurat itu sendiri.

Skor 2 (E. Minta pendapat rekan dulu sebelum memutuskan) — Mencari pendapat rekan yang sama-sama belum berpengalaman tidak menambah kepastian apa pun, hanya menunda tindakan yang sebenarnya sudah jelas jadi wewenang dan tanggung jawab sendiri.

Skor 1 (B. Ambil stok jauh lebih banyak dari kebutuhan) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena mengambil stok jauh melebihi kebutuhan mendesak berisiko menghambat ketersediaan cadangan untuk unit lain yang mungkin sama-sama membutuhkannya.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya dan cukup mendesak untuk segera ditangani, tanpa menunggu persetujuan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi hanya karena belum terbiasa menggunakan wewenang itu.

Soal 5
Kamu adalah petugas piket gudang bantuan logistik bencana di sebuah BPBD kabupaten. Tim lapangan melaporkan sebuah desa terdampak longsor membutuhkan tenda dan selimut malam ini juga karena hujan deras diperkirakan turun kembali, dan gudang kantor punya stok yang cukup. Prosedur standar BPBD memberi wewenang ke petugas piket untuk langsung mengeluarkan logistik tanggap darurat cukup dengan mencatat di log elektronik, tanpa perlu tanda tangan basah lebih dulu, dan persetujuan resmi bisa menyusul. Kepala bidang logistik sedang dalam perjalanan pulang dan telepon genggamnya nyaris kehabisan baterai. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah jebakan "aman tapi lambat": prosedur sudah jelas mengizinkan pengeluaran logistik darurat cukup dengan catatan elektronik, sehingga menunggu persetujuan lisan yang sebenarnya tidak lagi disyaratkan hanya menambah risiko bagi desa yang butuh bantuan malam ini juga.

Skor 5 (E. Keluarkan sesuai prosedur + catat log + kirim laporan singkat begitu selesai) — Ini paling tepat karena langsung menjalankan wewenang yang memang sudah diberikan prosedur tanpa menunggu persetujuan yang tidak disyaratkan, sekaligus tetap menjaga jejak pertanggungjawaban dengan segera melaporkannya.

Skor 4 (B. Keluarkan sesuai prosedur, tunda laporan sampai esok hari) — Mengeluarkan logistik sesuai prosedur darurat sudah keputusan yang benar dan tepat waktu, cuma menunda pengiriman laporan sampai esok hari membuat jejak pertanggungjawabannya kurang segera dibanding yang seharusnya bisa langsung dikirim begitu logistik keluar.

Skor 3 (A. Tunggu persetujuan lisan, tunda pengeluaran logistik) — Berusaha menghubungi kepala bidang terlihat hati-hati, tapi menunda pengeluaran logistik yang sudah jelas diizinkan prosedur sampai persetujuan lisan didapat justru mengabaikan urgensi cuaca dan tujuan prosedur darurat itu sendiri.

Skor 2 (D. Minta rekan ikut tanda tangan persetujuan informal) — Mencari persetujuan tambahan dari rekan yang sama-sama tidak berwenang tidak menambah keabsahan apa pun, hanya menunda tindakan yang sebenarnya sudah jelas diizinkan prosedur untuk dijalankan sendiri.

Skor 1 (C. Keluarkan seluruh stok jauh melebihi kebutuhan) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena mengeluarkan logistik jauh melebihi jumlah yang dilaporkan dibutuhkan berisiko menghabiskan cadangan yang mungkin dibutuhkan desa lain yang juga terdampak.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya dan cukup mendesak untuk segera ditangani, tanpa menunggu persetujuan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi menurut prosedur yang berlaku.

Soal 6
Kamu adalah staf piket layanan dokumen kependudukan yang bertugas di luar jam kerja normal untuk kondisi darurat. Sebuah keluarga menghubungi kantor karena butuh salinan resmi akta kematian anggota keluarganya malam ini juga, untuk keperluan pemakaman besok pagi sesuai adat yang berlaku, dan seluruh data pendukungnya sudah tersedia lengkap di sistem. Prosedur darurat kependudukan sudah memberi wewenang ke petugas piket untuk mencetak dan mengesahkan dokumen semacam ini di luar jam kerja tanpa perlu menunggu kepala seksi, cukup dicatat dan dilaporkan keesokan harinya. Kepala seksi yang biasanya menandatangani sedang tidak bisa dihubungi karena berada di acara keluarga. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah jebakan "aman tapi lambat": prosedur sudah jelas mengizinkan petugas piket mencetak dan mengesahkan dokumen darurat sendiri, sehingga menunggu persetujuan yang sebenarnya tidak lagi disyaratkan hanya menambah beban keluarga yang sedang berduka dan butuh dokumen itu malam ini juga.

Skor 5 (B. Cetak+sahkan sesuai wewenang + catat + lapor keesokan harinya) — Ini paling tepat karena langsung menjalankan wewenang yang memang sudah diberikan prosedur tanpa menunggu persetujuan yang tidak disyaratkan, sekaligus tetap menjaga jejak pertanggungjawaban dengan mencatat dan melaporkannya.

Skor 4 (C. Cetak+sahkan sesuai wewenang, tunda pencatatan resmi) — Mencetak dan mengesahkan sesuai wewenang darurat sudah keputusan yang benar dan tepat waktu, cuma menunda pencatatan resminya membuat jejak pertanggungjawabannya kurang segera dibanding yang seharusnya bisa langsung dicatat begitu dokumen selesai.

Skor 3 (A. Tunggu persetujuan, tunda pencetakan meski keluarga butuh malam ini) — Berusaha menghubungi kepala seksi terlihat hati-hati, tapi menunda pencetakan yang sudah jelas diizinkan prosedur sampai persetujuan didapat justru mengabaikan kebutuhan mendesak keluarga dan tujuan wewenang darurat itu sendiri.

Skor 2 (E. Minta rekan ikut tanda tangan persetujuan informal) — Mencari persetujuan tambahan dari rekan yang sama-sama tidak berwenang tidak menambah keabsahan apa pun, hanya menunda tindakan yang sebenarnya sudah jelas diizinkan prosedur untuk dijalankan sendiri.

Skor 1 (D. Cetak + tawarkan urus dokumen lain yang belum diminta) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena menawarkan mengurus dokumen tambahan yang belum diminta di luar wewenang darurat yang sebenarnya hanya mencakup kebutuhan mendesak malam itu, berisiko melampaui cakupan wewenang yang diberikan.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya dan cukup mendesak untuk segera ditangani, tanpa menunggu persetujuan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi menurut prosedur yang berlaku.

Soal 7
Kamu adalah staf laboratorium kesehatan daerah. Ditemukan sampel dari puskesmas yang diduga terkait potensi wabah penyakit menular, dan sampel tersebut harus segera dikirim ke laboratorium rujukan provinsi malam ini juga sebelum kualitasnya menurun akibat keterbatasan pendingin portabel. Prosedur kesehatan sudah mendelegasikan wewenang darurat ke staf laboratorium piket untuk langsung mengirim sampel prioritas tanpa menunggu tanda tangan basah kepala laboratorium, cukup dengan mencatat di formulir pengiriman darurat. Kepala laboratorium sedang tidak bisa dihubungi karena berada di pesawat menuju kota lain. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah jebakan "aman tapi lambat": prosedur sudah jelas mengizinkan staf piket mengirim sampel darurat sendiri, sehingga menunggu persetujuan yang sebenarnya tidak lagi disyaratkan hanya menambah risiko kualitas sampel yang berkaitan dengan potensi wabah menurun sebelum sempat diperiksa.

Skor 5 (C. Kirim sesuai wewenang + catat formulir + lapor begitu bisa dihubungi) — Ini paling tepat karena langsung menjalankan wewenang yang memang sudah diberikan prosedur tanpa menunggu persetujuan yang tidak disyaratkan, sekaligus tetap menjaga jejak pertanggungjawaban dengan mencatat dan melaporkannya.

Skor 4 (B. Kirim sesuai wewenang, tunda pengisian formulir) — Mengirim sampel sesuai wewenang darurat sudah keputusan yang benar dan tepat waktu, cuma menunda pengisian formulir pencatatan membuat jejak pertanggungjawabannya kurang segera dibanding yang seharusnya bisa langsung dicatat begitu sampel dikirim.

Skor 3 (A. Tunggu persetujuan, tunda pengiriman meski kualitas sampel menurun) — Berusaha menghubungi kepala laboratorium terlihat hati-hati, tapi menunda pengiriman yang sudah jelas diizinkan prosedur sampai persetujuan didapat justru mengabaikan risiko menurunnya kualitas sampel yang berkaitan dengan potensi wabah.

Skor 2 (D. Minta rekan ikut tanda tangan persetujuan informal) — Mencari persetujuan tambahan dari rekan yang sama-sama tidak berwenang tidak menambah keabsahan apa pun, hanya menunda tindakan yang sebenarnya sudah jelas diizinkan prosedur untuk dijalankan sendiri.

Skor 1 (E. Kirim + sertakan sampel lain di luar kategori prioritas) — Ini paling jauh dari kebutuhan situasi karena menyertakan sampel lain yang belum termasuk kategori prioritas darurat berisiko memperlambat penanganan sampel yang benar-benar mendesak di laboratorium rujukan.

Pola pikir: Memutuskan sendiri untuk hal yang memang sudah jelas jadi wewenangnya dan cukup mendesak untuk segera ditangani, tanpa menunggu persetujuan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi menurut prosedur yang berlaku.

Soal 8
Kamu adalah staf senior di sebuah dinas yang sudah bekerja sama bertahun-tahun dengan atasan langsungmu, seseorang yang banyak membimbingmu sejak awal karier dan punya hubungan mentor-mentee yang erat denganmu. Kamu diminta menjadi anggota tim investigasi internal untuk mengusut dugaan penyalahgunaan anggaran yang ternyata mengarah kuat ke atasanmu sendiri. Bukti-bukti yang kamu temukan cukup meyakinkan, dan kamu tahu kalau kamu melaporkan temuan ini secara jujur, karier dan reputasi orang yang selama ini membimbingmu akan hancur. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah dilema loyalitas vs kejujuran: kedekatan mentor-mentee yang berharga tidak boleh mengubah objektivitas laporan investigasi, sekalipun itu berarti mengungkap keterlibatan orang yang selama ini membimbing kariermu.

Skor 5 (D. Lapor objektif dan lengkap sesuai bukti, tanpa mengurangi atau melebihkan) — Ini paling tepat karena menjaga integritas proses investigasi sepenuhnya, melaporkan fakta apa adanya tanpa membiarkan kedekatan personal memengaruhi isi maupun kelengkapan laporan.

Skor 4 (C. Lapor objektif, tapi beri kesempatan menjelaskan empat mata dulu ke atasan) — Isi laporannya tetap objektif dan lengkap, tapi memberi kesempatan personal ke pihak yang diperiksa sebelum laporan resmi diserahkan berisiko dianggap membocorkan arah investigasi dan melanggar prinsip kerahasiaan proses yang sedang berjalan.

Skor 3 (A. Serahkan bukti, minta tidak dilibatkan dalam laporan akhir) — Menyerahkan bukti yang ditemukan sudah langkah yang jujur, tapi mengundurkan diri dari penyusunan laporan akhir karena kedekatan personal membuat penyelesaian investigasi yang sudah kamu mulai jadi tidak tuntas di tanganmu sendiri.

Skor 2 (E. Tunda laporan, cari bukti yang meringankan lebih dulu) — Mencari bukti tambahan terlihat seperti kehati-hatian, tapi mengarahkan pencarian itu khusus untuk meringankan posisi atasan mengubah proses investigasi jadi tidak lagi netral dan berisiko menunda penanganan temuan yang sudah cukup meyakinkan.

Skor 1 (B. Lapor sebagian, tahan bukti paling meyakinkan) — Ini paling jauh dari integritas yang dibutuhkan karena secara sengaja menyembunyikan bukti paling kuat dari tim investigasi, mengorbankan keakuratan laporan demi melindungi orang yang selama ini membimbingmu.

Pola pikir: Menjaga hubungan baik atau rasa terima kasih ke seseorang tidak boleh mengubah kewajiban menyampaikan kebenaran atau melaporkan pelanggaran yang diketahui, terutama saat posisi itu memberimu akses langsung ke proses investigasi resminya.

Soal 9
Kamu adalah staf yang bekerja satu tim dengan seorang rekan yang masih berstatus CPNS dalam masa percobaan. Kamu menemukan bahwa data yang rekanmu masukkan ke laporan resmi tahunan yang sudah terkirim ke kementerian ternyata salah secara signifikan (angka realisasi anggaran tertukar dengan tahun sebelumnya), dan kesalahan itu murni human error, bukan kesengajaan. Rekanmu memohon supaya kamu tidak melaporkan ini ke atasan, karena khawatir kesalahan ini akan menggagalkan pengangkatannya jadi PNS. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah dilema loyalitas vs kejujuran: rasa iba pada rekan yang masa depannya terancam tidak boleh mengubah kewajiban meralat data resmi yang sudah terkirim ke kementerian, meski kesalahannya murni human error dan bukan kesengajaan.

Skor 5 (B. Lapor resmi ke atasan + jelaskan itu murni kesalahan teknis) — Ini paling tepat karena memastikan data resmi negara segera diralat, sekaligus memberi konteks yang adil bahwa ini kesalahan teknis biasa, bukan kelalaian yang disengaja, supaya penilaian terhadap rekanmu tetap proporsional.

Skor 4 (C. Lapor resmi ke atasan mengikuti jalur standar) — Melaporkan kesalahan itu secara resmi sudah langkah yang benar untuk memastikan data negara diralat, tapi tidak menyertakan konteks bahwa ini murni kesalahan teknis membuat atasan menilai situasi tanpa informasi penting yang sebenarnya kamu ketahui.

Skor 3 (A. Bantu perbaiki sendiri dulu, lapor kalau tidak cukup) — Membantu memperbaiki data terlihat solutif, tapi menunda pelaporan resmi padahal laporan itu sudah terkirim ke kementerian membuat proses ralat resminya jadi lebih lambat dari yang seharusnya bisa segera ditempuh.

Skor 2 (E. Sarankan rekan lapor sendiri, tidak ikut campur lagi) — Menyarankan rekan melaporkan sendiri menempatkan tanggung jawab pada orang yang tepat, tapi tidak memastikan laporan itu benar-benar disampaikan berisiko membuat kesalahan data resmi itu tetap tidak teralat.

Skor 1 (D. Setujui permintaan rekan, anggap cukup diperbaiki internal) — Ini paling jauh dari kejujuran yang dibutuhkan karena membiarkan data resmi yang salah tetap terkirim ke kementerian tanpa ralat apa pun, semata demi melindungi rekan dari konsekuensi kesalahannya sendiri.

Pola pikir: Menjaga hubungan baik atau rasa iba pada rekan kerja tidak boleh mengubah kewajiban menyampaikan kebenaran atau meralat kesalahan yang sudah terlanjur menjadi bagian dari dokumen resmi, sekalipun kesalahan itu murni tidak disengaja.

Soal 10
Kamu adalah staf inspektorat kabupaten yang sedang memeriksa laporan penggunaan dana desa. Kamu menemukan bahwa sahabat dekatmu, seorang kepala desa, telah merealokasikan sebagian dana desa ke proyek jalan tani yang berbeda dari yang disetujui dalam rencana anggaran, tanpa persetujuan resmi terlebih dahulu, meski proyek pengganti itu terbukti lebih dibutuhkan warga. Sahabatmu memohon supaya temuan ini tidak dilaporkan, karena khawatir akan berdampak besar pada pencalonannya di pemilihan kepala desa berikutnya. Apa yang kamu lakukan?
Pembahasan

Yang diuji di soal ini adalah dilema loyalitas vs kejujuran: kekhawatiran atas masa depan politik sahabatmu tidak boleh mengubah kewajiban melaporkan penyimpangan prosedur anggaran yang kamu temukan, sekalipun proyek pengganti itu sendiri terbukti bermanfaat bagi warga.

Skor 5 (C. Lapor resmi + catat manfaat proyek sebagai konteks, tanpa ubah kesimpulan) — Ini paling tepat karena tetap melaporkan penyimpangan prosedurnya secara utuh, sekaligus memberi konteks yang adil soal manfaat proyek pengganti tanpa membiarkan konteks itu mengubah kesimpulan temuan yang sebenarnya.

Skor 4 (B. Lapor resmi mengikuti jalur standar) — Melaporkan temuan itu secara resmi sudah langkah yang benar untuk menjaga integritas pemeriksaan, tapi tidak menyertakan konteks manfaat proyek pengganti membuat laporan itu terasa kurang lengkap dibanding gambaran situasi yang sebenarnya kamu ketahui.

Skor 3 (A. Sarankan revisi mandiri, tunda pelaporan sampai diajukan) — Menyarankan revisi anggaran resmi terlihat solutif, tapi menunda pelaporan temuanmu sampai revisi itu benar-benar diajukan membuat proses pemeriksaan jadi lebih lambat dari yang seharusnya bisa segera dilaporkan.

Skor 2 (D. Bahas dengan rekan sesama staf inspektorat dulu) — Mencari pendapat rekan terlihat hati-hati, tapi menunda keputusan pelaporan untuk berdiskusi dulu dengan sesama staf berisiko memperlambat proses yang sebenarnya sudah cukup jelas berdasarkan temuan pemeriksaanmu sendiri.

Skor 1 (E. Setujui permintaan sahabat, tidak cantumkan temuan) — Ini paling jauh dari kejujuran yang dibutuhkan karena menghapus temuan penyimpangan dari laporan resmi pemeriksaan semata demi melindungi kepentingan politik sahabatmu.

Pola pikir: Menjaga hubungan baik dengan sahabat atau kolega tidak boleh mengubah kewajiban melaporkan penyimpangan prosedur yang ditemukan dalam pemeriksaan resmi, sekalipun hasil dari penyimpangan itu sendiri ternyata bermanfaat.